Mendaki gunung akhir-akhir ini menjadi cukup populer dan mainstream meskipun sebenarnya masuk kedalam jenis kegiatan ekstrim. Banyak pemula mencobanya tanpa persiapan yang matang, sehingga kita sering pula mendengar kecelakaan atau musibah yang terjadi pada pendaki. Padahal tidak seperti traveling biasa, mendaki gunung membutuhkan persiapan khusus selain kondisi fisik yang prima. Karena travelmate berhadapan dengan alam bebas yang kadang sulit untuk diperkirakan.

Agar pengalaman pertamamu di alam bebas dapat berjalan sesuai rencana, berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

Menentukan gunung mana yang di tuju

Tentu saja menentukan tujuan adalah hal pertama yang harus dilakukan. Dengan mengetahui gunung mana yang akan di daki maka travelmate dapat melakukan riset sederhana mengenai profil gunung tersebut, bagaimana kondisi geografisnya, apa transportasi yang tersedia untuk menuju ke sana, dan juga adat istiadat yang berlaku di sana. Mengingat kita hanya pengunjung saja, jadi alangkah baiknya jika kita menghormati aturan-aturan tertulis maupun tidak tertulis di sana.

Menentukan waktu untuk mendaki gunung

Penentuan waktu pendakian yang tepat sangat berpengaruh pada keberhasilan pendakian, terutama untuk menghindari bahaya-bahaya objektif seperti hujan dan badai, serta penyakit ketinggian dan gangguan binatang. Pun juga menentukan perlengkapan tambahan yang harus dibawa.

Bulan Juli – Agustus dapat menjadi pilihan untuk mendaki gunung di wilayah Indonesia, ketika hujan tidak terlalu sering datang. Namun travelmate harus mempersiapkan lebih banyak air minum karena persediaan air di gunung-gunung wilayah Pulau Jawa bergantung pada curah hujan.

Keril, salah satu perlengkapan wajib pendakian (Pic. satutenda.com)
Rencana anggaran dan biaya

Mendaki gunung sebenarnya adalah kegiatan yang cukup murah, kecuali jika ingin membeli semua perlengkapannya. Buatlah anggaran terperinci di setiap aktivitas, seperti makan, transportasi, perijinan, perlengkapan tambahan, dan lain-lain.  Bila perlu tunjuk salah seorang dari anggota kelompok untuk menjadi bendahara, sehingga pengeluaran dana lebih terkontrol. Meminjam atau menyewa perlengkapan mendaki gunung adalah hal yang travelous anjurkan bagi travelmate yang baru pertama kali mencobanya, baru kemudian perlahan-lahan mengoleksi alat pendakian ketika sudah mulai jatuh cinta pada gunung.

Peserta pendakian

Jika travelmate adalah seorang pemula, cukup penting untuk mengajak 1 atau 2 orang yang sudah berpengalaman dalam pendakian. Karena dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, biasanya mereka cenderung lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di alam bebas. Atau travelmate bisa juga menyewa Pemandu Wisata Gunung yang sudah disertifikasi oleh Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), dengan merogoh kocek lebih pastinya.

Medan yang berat membutuhkan persiapan yang matang agar bisa kembali pulang dengan selamat (Pic. trivia.id)

Perijinan

Setiap daerah memiliki peraturan perijinan yang berbeda, tergantung pula pada sifat kegiatan yang dilakukan. Apakah untuk penelitian ataukah petualangan. Siapkan saja salinan identitas diri (KTP, KTM, Kartu Pelajar, atau Paspor), surat jalan dari organisasi jika melakukan pendakian atas nama organisasi tertentu, surat jalan dari kepolisian setempat, serta surat ijin atau tanda masuk dari pos pendakian.

Perijinan ini wajib dipenuhi untuk membantu pihak berwenang melakukan tindakan darurat ketika kelompok pendaki –amit-amit- tersesat, terluka atau tidak kembali sesuai dengan waktu yang ditentukan.


Oke! Semakin bersemangat untuk mulai mendaki gunung? Jangan lupa mengutamakan keselamatan serta menjaga lingkungan sekitarnya ya? Karena travelmate yang keren adalah mereka yang tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, tidak mengambil apapun kecuali gambar, dan tidak membunuh apapun kecuali waktu.

Salam lestari!
Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *