Bagi travelmate yang beretnis Tionghoa serta tinggal di Jakarta mungkin tidak asing dengan gedung Candra Naya, namun travelous yakin bahwa tidak semua orang yang tinggal di Jakarta pernah mendengar atau mengunjungi tempat ini. Untuk itu, masih dalam rangka tahun baru Imlek serta menyambut Cap Go Meh, travelous sengaja bertandang kemari.

Tidak mudah menemukan gedung Candra Naya, bahkan ketika kamu menggunakan bantuan dari Google Maps, keraguan bisa jadi akan muncul ketika menemukan pin point Candra Naya berada di kawasan hotel Novotel. Tapi rumah tua ini memang benar berada disana, tampak sangat pendek namun eye catching diantara himpitan bangunan tinggi Novotel.

Rumah sederhana yang diapit bangunan modern (Pic by Aruma Sistha)

Bangunan cagar budaya ini dulunya merupakan kediaman Khouw Kim An, seorang Mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia pada periode tahun 1910-1918 dan diangkat kembali pada 1927-1942. Itulah sebabnya, Candra Naya juga dikenal dengan sebutan “Rumah Mayor”. Menurut informasi, bangunan ini dibangun pada tahun Dingmao (kelinci api), yaitu diperkirakan pada tahun 1807 atau pada tahun 1867, dan entah oleh Khouw Tjeng Tjoan (ayah Khouw Kim An) atau Khouw Tian Seng, kakeknya.

[Baca juga: Barongsai, si Lincah Pengusir Roh Jahat]

Usai masa Perang Dunia II, bangunan ini ditempati oleh Sin Ming Hui. Orrganisasi ini melakukan berbagai kegiatan sosial seperti menyediakan klinik kesehatan, bantuan hukum, klub olah raga, pendidikan hingga membentuk klub fotografi tertua di Jakarta pada tahun 1948 (Sin Ming Hui Photographic Society). Pada era 1962 Sin Ming Hui berganti nama menjadi Tjandra Naja, lalu kemudian mengubahnya menjadi Candra Naya, sesuai dengan aturan ejaan baru Bahasa Indonesia.

Atap melengkung gaya ekor burung walet menunjukkan status sosial pemiliknya (Pic by Aruma Sistha)
Ornamen yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seorang terpelajar (Pic by Aruma Sistha)

Rumah yang nampak sederhana ini sangat kental dengan budaya Tiongkok. Bagian atap melengkung yang kedua ujungnya terbelah dua menunjukkan status sosial penghuninya. Struktur atap yang disebut yanwei atau ekor walet ini juga terdapat pada bangunan klenteng. Kita juga dapat menemukan beberapa ornamen khas Tionghoa seperti Ba Gua (Segi Delapan) pada pengetuk pintu sebagai penolak bala, hiasan jamur lingzhi pada pintu masuk utama yang melambangkan umur panjang, gambar dewa-dewi, petuah-petuah China kuno, karakter opera China, kolam ikan Koi, bunga Teratai, patung-patung hewan mitologi China, serta ornamen pada bagian atas teras depan (kecapi, papan catur, alat musik dan gulungan lukisan) melambangkan bahwa sang pemilik rumah adalah seorang cendekiawan (scholar) kaya raya yang berjiwa seni tinggi.

Kolam penampung rejeki (Pic by Aruma Sistha)

Penasaran ingin mengaguminya secara langsung? Travelmate dapat kemari dengan menggunakan beberapa alternatif transportasi massa. Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota atau sampai di Halte Transjakarta Olimo, kamu bisa menggunakan Ojek Online atau berjalan kaki (jika tidak capek) untuk menuju ke lokasi Candra Naya yang tersembunyi di tengah kemegahan Novotel.

[Baca juga: Menjajal Patekoan, Tradisi Delapan Teko Teh Gratis Warisan Kapiten Gan Djie]

 
Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *