Perayaan tahun baru Imlek tentunya tidak pernah lepas dari kehadiran barongsai yang meramaikannya. Tapi tahukah travelmate bagaimana sebenarnya asal-usul singa lincah pengusir roh jahat ini?

Menurut Christine dan kawan-kawan dalam buku “5000 Tahun Ensiklopedia Tionghoa 1”, para leluhur Tionghoa percaya bahwa setiap awal tahun baru adalah masa di mana para dewa dewi yang berada di bumi kembali ke khayangan untuk melapor kepada Kaisar Langit. Maka saat itu roh-roh jahat di dunia menjadi semakin ganas dan tidak terkendali. Berasal dari kepercayaan tersebut maka orang Tionghoa kuno mengadakan tarian barongsai yang sebelumnya telah diberkati di klenteng untuk mengusir roh jahat dan nien (monster) yang suka menyerang manusia dan anak-anak.

Konon katanya, kembang api, suara pukulan simbal, gong, gendang dan musik meriah yang mengiringi adegan atraktif tarian barongsai akan membawa keselamatan dan keberuntungan karena nien dan roh jahat takut akan warna merah dan bunyi-bunyian yang keras. Kini mengusir monster dan roh jahat diibaratkan sebagai mengusir aura-aura buruk.

(Dok. Tribun)

Kostum warna-warni yang dipakai pun memiliki makna sendiri. Biasanya perbedaan warna pada bulu Barongsai melambangkan umur dan karakter si Barongsai. Barongsai putih adalah yang paling tua, warnanya melambangkan kesucian. Barongsai kuning adalah barongsai remaja yang warnanya melambangkan keberuntungan dan ketulusan  hati. Barongsai hitam adalah yang berumur paling muda, karenanya biasa ditarikan dengan gerakan yang lincah, seperti memiliki keingintahuan yang tinggi. Barongsai emas melambangkan kegembiraan, hijau melambangkan pertemanan dan merah  melambangkan keberanian. Namun tidak hanya warna itu saja, warna seperti pink atau ungu adalah warna-warna baru yang dimunculkan oleh barongsai modern seiring berkembangnya waktu.

(Dok. Tribun)
Di Indonesia, barongsai diperkirakan masuk pada abad ke-17, namun karena situasi politik yang tidak kondusif ketika terjadi G30S/PKI, pertunjukan ini sempat dilarang sebelum akhirnya masyarakat  Tionghoa diberi kebebasan untuk merayakan Imlek dan menampilkan barongsai pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman wahid. Hingga kini barongsai Indonesia telah tampil di kelas dunia dan bahkan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) – Tarakan telah meraih juara 1 pada suatu pertandingan dunia yang diadakan di Surabaya pada tahun 2006 mengalahkan China dan Malaysia yang terlebih dahulu mempelajari kesenian barongsai.

[Baca juga: Bertandang ke Rumah Mayor Tionghoa, Candra Naya]

Uniknya, penyebutan barongsai sebenarnya merupakan cerminan akulturasi Tionghoa di Indonesia dan nama ini hanya ada di Indonesia saja. “Barong” berasal dari kesenian boneka Bali yang dimainkan oleh manusia di dalamnya, sementara “Sai”dalam bahasa Hokkian berarti singa. Nama asli kesenian ini adalah “Wu Shi” atau disebut “Lion Dance” di negara Barat.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *